www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Kia Hadirkan Carens & Sonet Limited Black Edition, Unit Terbatas Siap Diburu di GIIAS 2026
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Menapaki Jalan Energi Berkelanjutan di Negeri Tuah Seiya Sekata
Senin, 13 Juli 2026 - 07:58:48 WIB
Nardi, Asisten Manager GHG Monitoring APRIL, memeriksa instrumen pemantau gas rumah kaca di puncak Menara Greenhouse Gas (GHG) Peatland, Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan (foto/dok.April)
Nardi, Asisten Manager GHG Monitoring APRIL, memeriksa instrumen pemantau gas rumah kaca di puncak Menara Greenhouse Gas (GHG) Peatland, Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan (foto/dok.April)

Oleh: Andy Indrayanto

Sore yang menggantung di Semenanjung Kampar, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Langit di kecamatan yang terkenal dengan ombak Bono-nya itu, dipulas warna hitam di sana-sini. Mendung yang menggantung, mungkin sebentar lagi titik-titik air dari langit akan turun.

Di hamparan hutan gambut yang membentang luas, awan hitam seolah sudah tak mampu menampung muatannya. Dan benar saja, tak lama kemudian hujan turun membasahi seluruh permukaan yang ada di situ tak terkecuali sebuah menara bercat merah putih yang menjulang puluhan meter di tengah rimba.

Dalam gambaran hujan dan temaramnya senja, kaki-kaki kokoh Menara Greenhouse Gas (GHG) Peatland milik perusahaan APRIL Group itu terlihat berdiri dengan gagahnya. Di puncaknya yang menjulang, berbagai sensor bekerja tanpa henti merekam perubahan suhu, kelembapan udara, kadar metana, hingga karbon dioksida yang keluar maupun diserap oleh ekosistem gambut.

Bagi orang awam, menara itu mungkin hanya tampak sebagai rangkaian besi di tengah hutan. Namun sesungguhnya, dari tempat itulah tersimpan data penting tentang bagaimana bentang alam gambut berperan dalam menghadapi perubahan iklim.

"Emisi karbon hari ini telah menjadi isu global, tidak hanya skala nasional saja namun juga internasional, jadi memang penting untuk mengetahui kandungan udara di ekosistem kita. Dan di sini, kita ingin mengelola emisi karbon di area sendiri, hal ini berkaitan dengan tujuan perusahaan untuk mencapai pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab," terang Asisten Manager GHG Monitoring APRIL, Nardi, saat menjelaskan fungsi menara.

Dalam bahasa sederhana, Nardi menjelaskan bahwa untuk menghitung total emisi dan serapan GRK akibat penggunaan lahan pada seluruh areanya, perusahaan mengikuti GHG Protocol Agricultural Guidance dan IPCC Guidelines for Agricultural, Forestry, and Other Land Use. Perubahan lahan dihitung berdasarkan rentang waktu tertentu, yaitu 20 tahun berdasarkan analisa data penginderaan jauh.

Menara Greenhouse Gas (GHG) Peatland menjulang di tengah bentang hutan Semenanjung Kampar digunakan untuk memantau pertukaran gas rumah kaca antara ekosistem gambut dan atmosfer.

Emisi GRK akan dihitung sebagai total perubahan stok karbon pada biomassa tumbuhan berkayu dan bahan organik tanah, serta mencakup semua fluks/aliran utama karbon seperti dekomposisi gambut, pertumbuhan dan pemanenan tanaman, serta kebakaran lahan.

Verified Carbon Standard (VCS), Climate, Community and Biodiversity Standards (CCB), atau standar lainnya yang diterima di tingkat internasional akan digunakan untuk melakukan kuantifikasi atas jumlah unit karbon yang digunakan untuk mengimbangi emisi.

Sayang memang, gerimis yang berubah menjadi hujan membuat penulis tak bisa menaiki anak tangga menuju puncak menara. Terbayang sudah jika cuaca terang, keindahan hijaunya hutan Semenanjung Kampar makin terlihat menakjubkan. Diakui Nardi, bahwa tantangan memang akan semakin berat ketika hujan atau cuaca berangin karena memanjat Menara akan semakin berbahaya dan peralatannya pun hanya dapat dicek saat cuaca cerah.

"Sayang hujan, kalau cuaca cerah kita bisa naik dan melihat keindahan dari atas," kata laki-laki asli Jambi ini.

Nardi menjelaskan bahwa instrumen yang ada di puncak menara adalah alat-alat elektronik yang rentan dengan kerusakan, sehingga secara berkala pihaknya harus memastikan bahwa semuanya berfungsi dan merekam dengan baik.

"Apalagi saat hujan karena terkadang instrumen dapat kehilangan sinyal," ujar peraih beasiswa Tanoto Foundation tahun 2010 ini.

Apa yang disampaikan Nardi mungkin cerita di atas permukaan saja tentang data yang dikumpulkan melalui instrumen yang dipasang di puncak Menara GHG milik April di Pelalawan, namun sesungguhnya kisah di balik menara itu bukan sekadar mengenai teknologi pengukur karbon. Cerita itu juga berbicara tentang bagaimana Kabupaten Pelalawan mencoba menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomikelestarian lingkungan dan ekologi di dalamnya.

Selama ini, sudah lebih dari dua dekade Pelalawan berkembang menjadi salah satu pusat industri terbesar di Provinsi Riau. Kehadiran industri pulp dan kertas telah mengubah wajah Pangkalan Kerinci menjadi kota industri yang menopang ribuan tenaga kerja dan mendorong tumbuhnya sektor perdagangan, transportasi, jasa hingga usaha mikro.

Pertumbuhan tersebut menjadikan Pelalawan sebagai salah satu daerah dengan aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Namun, di balik geliat investasi dan meningkatnya produksi, muncul satu pertanyaan besar: bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi itu tidak dibayar dengan kerusakan lingkungan? Kekhawatiran itulah yang, menurut Pemerintah Kabupaten Pelalawan, menjadi salah satu alasan penting mengapa pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Pelalawan, Eko Novitra, ST., M.Si., dikonfirmasi soal ini mengatakan pembangunan energi berkelanjutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Menurutnya, prinsip pembangunan tersebut adalah memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang memenuhi kebutuhannya.

"Dan sebagai daerah yang memiliki sektor industri, perkebunan, dan kehutanan yang cukup dominan, Pelalawan perlu terus mendorong pemanfaatan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pengembangan energi berkelanjutan bukan hanya bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam, menjaga kualitas lingkungan hidup, serta mendukung target pembangunan rendah karbon," ujarnya.

Energi Berkelanjutan Bukan Sekadar Listrik

Banyak orang masih menganggap energi berkelanjutan identik dengan panel surya atau turbin angin. Padahal maknanya jauh lebih luas. Di kawasan industri, energi bersih justru lahir dari upaya memanfaatkan setiap sumber daya secara lebih efisien sehingga kebutuhan energi tetap terpenuhi dengan emisi yang semakin rendah.

Dalam konteks industri pulp dan kertas, tantangan tersebut tidak sederhana. Proses produksi membutuhkan energi dalam jumlah besar yang harus tersedia selama 24 jam. Karena itu, efisiensi energi dan penggunaan sumber energi terbarukan menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju industri rendah karbon.

Dikutip dari www.aprilasia.com dalam Laporan Keberlanjutan 2025, disebutkan bahwa  di kompleks industri RAPP sebagian kebutuhan energi dipenuhi melalui pemanfaatan biomassa dan black liquor, yaitu residu hasil pengolahan kayu yang dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Dengan cara itu, limbah produksi tidak berakhir menjadi beban lingkungan. Sebaliknya, ia kembali dimanfaatkan menjadi sumber energi untuk menggerakkan roda produksi.

Selain itu, perusahaan juga mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya serta penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon.

Meski begitu, pembangunan energi berkelanjutan tidak berhenti di dalam kawasan industri. Pasalnya, di luar pagar pabrik, bentang alam gambut memiliki peran yang tidak kalah penting.

Ekosistem gambut merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia. Selama kondisinya tetap basah dan terjaga, karbon akan tersimpan di dalam tanah. Sebaliknya, ketika gambut rusak atau terbakar, jutaan ton karbon dapat terlepas ke atmosfer dan mempercepat laju perubahan iklim.

Karena itu, perlindungan kawasan gambut menjadi bagian penting dalam strategi pengurangan emisi karbon. Dan program Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang dijalankan di Semenanjung Kampar menjadi salah satu contoh bagaimana kawasan konservasi tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga mempertahankan fungsi gambut sebagai penyerap karbon alami.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah melalui agenda Forest and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030, yang menempatkan sektor kehutanan sebagai salah satu pilar pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia. Disitir dari situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat itu, Siti Nurbaya, dalam Panel Tingkat Tinggi tentang Keterkaitan Pertanian dan Kehutanan di Roma, Italia, pada Oktober 2021, menegaskan bahwa pelaksanaan program FOLU Net Sink 2030 merupakan wujud nyata komitmen sektor kehutanan Indonesia.

"Tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk berkontribusi kepada masyarakat global menuju pemulihan hijau, sekaligus membangun ekonomi yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan," ujar Siti Nurbaya.

Dengan begitu, upaya pemantauan emisi karbon, perlindungan gambut, serta penerapan energi yang lebih bersih di kawasan industri Pelalawan tidak berdiri sendiri. Seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari kontribusi daerah dalam mendukung target nasional menuju pembangunan rendah karbon dan ekonomi berkelanjutan.

Menurut Eko Novitra, keberhasilan upaya tersebut tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah ataupun dunia usaha secara sendiri-sendiri. Ia menegaskan pengendalian perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah berperan sebagai regulator, pembina, dan pengawas, sedangkan dunia usaha menjadi pelaksana utama dalam penerapan teknologi yang lebih bersih, efisiensi energi, pengendalian emisi, dan pengelolaan limbah.

"Dengan sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media, upaya pengurangan emisi karbon akan lebih efektif sekaligus tetap menjaga pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Terkait hal ini, guru besar di Universitas Riau, Prof. Dr. Ir. H. Tengku Dahril, M.Sc.., menilai bahwa Pelalawan memiliki posisi strategis dalam pembangunan energi berkelanjutan karena didukung sektor kehutanan dan hutan tanaman industri yang mampu menyerap karbon sekaligus menghasilkan oksigen.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan industri. Transparansi data, keterlibatan perguruan tinggi, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi syarat utama agar pembangunan berjalan secara berkelanjutan.

Penilaian serupa juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Pelalawan. Menurut Eko Novitra, sejumlah perusahaan di Kabupaten Pelalawan telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan, mulai dari efisiensi energi, pengendalian emisi, pemanfaatan limbah sebagai sumber energi, rehabilitasi lahan, hingga program penanaman pohon. Namun, menurutnya, pengurangan emisi merupakan proses jangka panjang yang harus disertai pembinaan, pengawasan, dan evaluasi secara berkelanjutan agar seluruh kegiatan usaha tetap memenuhi ketentuan lingkungan hidup.

Hamparan hutan gambut di Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan memiliki peran penting sebagai penyimpan karbon alami dan menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan rendah emisi.

Hal yang kurang lebih sama disampaikan akademisi Universitas Riau, Dr. Muhammad Syafi'i. Ia menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berjalan di atas tiga pilar yang saling menguatkan, yakni ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Menurutnya, pemanfaatan biomassa, peningkatan efisiensi energi, dan investasi pada teknologi rendah emisi merupakan langkah positif. Namun seluruh upaya tersebut memerlukan dukungan riset, teknologi, serta keterbukaan data emisi karbon agar kebijakan yang diambil benar-benar berbasis ilmu pengetahuan.

"Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat harus memiliki peta jalan bersama menuju pembangunan rendah karbon," ujar Muhammad Syafii yang meraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan tahun 2018 dari Universtas Riau ini.

Harapan dari Pelalawan

Hujan di Semenanjung Kampar akhirnya reda menjelang senja. Menara GHG kembali terlihat jelas di antara hamparan hutan gambut yang membentang luas. Instrumen-instrumen kecil di puncaknya terus bekerja merekam setiap perubahan yang terjadi di alam.

Angka-angka yang dihasilkannya mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi dasar dalam memahami bagaimana emisi karbon dapat dikendalikan dan bagaimana energi dapat dikelola secara lebih berkelanjutan.

Bagi Pelalawan, perjalanan menuju energi berkelanjutan memang belum selesai. Masih banyak tantangan yang harus dijawab, mulai dari efisiensi energi, perlindungan gambut, hingga penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Namun di tengah hamparan gambut Semenanjung Kampar, harapan itu mulai tumbuh. Harapan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus bertentangan dengan kelestarian lingkungan. Bahwa industri dapat terus berkembang, masyarakat memperoleh manfaat, dan alam tetap terjaga.

Di sanalah sesungguhnya makna pembangunan energi berkelanjutan menemukan bentuknya: bukan sekadar menghadirkan teknologi yang lebih bersih, melainkan membangun masa depan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. ***



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Kia Carens & Sonet Limited Black Edition.Kia Hadirkan Carens & Sonet Limited Black Edition, Unit Terbatas Siap Diburu di GIIAS 2026
Puluhan siswa keracunan MBG di Lampung.Puluhan Siswa Diduga Keracunan, Operasional 6 Dapur MBG di Lampung Dihentikan
Ilustrasi Harimau Sumatra resahkan warga Desa Danai, Inhil (foto/int)Harimau Sumatra Berkeliaran di Permukiman Inhil, Warga Diminta Waspada
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto.SF Hariyanto Ingatkan Daerah Jangan Telat Bayar Gaji PPPK, Siap Dibantu Pemprov Riau
Warga di Jalan Jati Jajar I, Kulim keluhkan rumah dipenuhi lalat dari pagi hingga malam (foto/ist)Rumah Dipenuhi Lalat Sepanjang Hari, Warga Kulim Desak Pemko Turun Tangan
  Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 dipusatkan di Bali dengan mengambil tema Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang, Minggu (26/7/2026).Peringatan Hari Mangrove Sedunia, Pemerintah dan APHI Dorong Pengelolaan Berkelanjutan
Ketua DPRD Kota Pekanbaru, M. Isa Lahamid.PAD Ditarget Rp1,3 Triliun, APBD Pekanbaru 2027 Berpotensi Naik? Ini Penjelasan DPRD
Warga antusias berbelanja selama operasi pasar murah di Riau (foto/ist)TPID Riau Gelar Operasi Pasar Murah di Pekanbaru dan Kampar, Cek Jadwal dan Lokasinya
PT Tunggal Perkasa Plantations (PT TPP).PT TPP Miliki Komitmen Kuat Cegah Karhutla, Sistem Tanggap Darurat Dinilai Sangat Baik oleh Polri
Kepala Bapenda Riau, Ninno Wastikasari (foto/ist)Tunggakan Pajak Kendaraan di Riau Hampir Rp500 M, Pekanbaru Penyumbang Terbesar
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved